Tags

, , ,

Sejak sebelum masuk musim penghujan, pria penjual jas hujan itu sudah berdiri di pinggir jalan dan menjajakan dagangannya. Tidak terlihat ada orang yang menepikan sepeda motor dan menghampirinya. Entah kenapa, saya ikut sedih.

Beberapa kali setiap pulang kerja, saya melewatinya. Dia mengacung-acungkan jas hujan dalam kemasan. Dirinya sendiri memakai jas hujan biru. Malam itu begitu lembab, mungkin sebenarnya dia kepanasan.

Jadi bertanya-tanya, apakah dia memang benar-benar penjual jas hujan? Bukan seorang karyawan kantor yang mencoba mencari tambahan rupiah dengan jualan jas hujan di pinggir jalan sepulang kerja? Siapa yang sedang menunggunya di rumah? Seorang istri yang hamil tua dan anak-anak kecil yang membutuhkan makanan bergizi?

Sedih itu selalu menyusup setiap kali melewatinya. Saya juga ikut senang saat beberapa pengendara sepeda motor mendatanginya di malam gerimis. Alhamdulillah, ada rupiah yang dia bawa pulang. Tanpa sadar, saya bisikkan doa untuk pria penjual jas hujan itu. Semoga dagangannya laris manis…

Saya sendiri tidak emmbeli jas hujan karena kebetulan sudah punya. Jadi maaf ya wahai pria penjual jas hujan….

Untuk setiap kerja keras, pasti ada imbalannya. Untuk setiap dingin malam yang nekat membuat bulu kudukmu meremang, pasti akan selalu ada nilainya. Mungkin tidak sekarang, tapi nanti…. Bukankah hidup itu harus kerja keras?