Sering kali saya mendapati orang-orang yang merasa apa yang dilakukannya paling benar. Jadi dengan bebas dia menjatuhkan ‘penghakiman’ pada hal-hal yang berbeda dengan dirinya. Bahkan dia tidak rela jika sikap yang dipilihnya ‘diserang’ orang lain. Kenapa tidak rela? Karena merasa paling benar, tentu saja.

Hal-hal semacam ini banyak saya jumpai di jejaring sosial. Ada tokoh politik yang berkoar akan sesuatu, merasa diri dan kelompoknya yang paling tanpa cela. Bahkan dia sesumbar berani ‘diadu’ untuk membuktikan pemikirannya. Memang tidak ada yang salah. Tapi jika kemudian tanpa sadar ‘menuhankan’ dirinya? Ketika dia merasa hanya dia benar dan orang lain salah…

Saya cinta damai, maka itu menurut saya, jika mau mengkritik, sampaikan dengan bahasa yang santun. Sebab tidak ada seorang pun yang mau dirinya dihakimi, dianggap salah oleh persepsi orang lain. Bukankah kalau namanya persepsi semua orang pasti akan merasa benar?

Menurut saya, ya sudahlah orang lain mengambil sikap dan pemikiran sesuai keyakinannya akan kebenaran. Sepanjang tidak menyalahi norma dan aturan sah-sah saja bukan? Kenapa sih harus terusik dan mengusik hidup orang lain?

Menurut orang tua saya, saya dulu cukup dimanjakan mereka. Bagaimana tidak, saya mendapatkan semua buku yang saya inginkan. Setiap kali akan makan, ada orang yang mengambilkan dan menyuapkan ke mulut saya, sementara saya asyik dengan bacaan atau aktivitas saya. Yang seperti ini saja mendapat penghakiman loh.

Ada yang bilang kelak kalau saya sudah dewasa tidak bisa hidup tanpa orang tua, tidak bisa ngapa-ngapain, dan sebagainya. Nyatanya? ‘Teori’ mereka tidak terbukti. Saya bisa bertahan meski jauh dari orang tua. Saya masih hidup dan bisa berjalan meski dihempas aneka badai. Saya berdarah-darah, tapi toh sampai saat ini saya hidup.

Mereka yang pernah menjatuhkan penghakiman apa kabar? Apakah anak-anak mereka lantas tumbuh lebih kuat dari saya? Ukuran kuat di sini tidak jelas seperti apa. Tapi kalau kuat itu artinya bisa hidup meski tanpa dukungan finansial orang tua, saya tidak kalah kuat dong? Lalu?

Kelak, jika saya dipercaya sebagai orang tua, hal yang ingin saya tanamkan pada anak-anak saya adalah untuk tidak merasa paling benar, untuk menghargai sikap dan pemikiran orang lain. Setiap orang punya hidup dan jalan hidup yang satu sama lain tidak pernah seragam. Lalu untuk apa menghakimi, menyindir, nyinyir atau apalah pada sikap orang lain. Persepsi kebenaran itu relatif….

Kalau niatnya memberikan ‘nasihat’ atau kritik, akan lebih mengena jika menggunakan tutur kata yang sopan dan jauh dari kesan sarkas… Karena orang-orang itu cenderung tidak suka digurui. Apalagi jika itu datangnya dari sosok yang dianggap lebih muda dan dianggap bau kencur…

-Lewat tengah malam, dengan PR yang belum juga dikerjakan-