Meski sudah 7 bulan menikah, secara resmi saya dan suami baru tinggal bersama sekitar 3 bulan ini. Maklum, gubuk kami baru bisa ditempati 3 bulan yang lalu. Tapi baru siang tadi saya tahu kalau suami saya suka melihat saya yang sedang tidur.

Tidak perlu saya menulis sekomplet pesan tertulis yang dikirimkannya siang tadi di blog ini. Tapi dia memang bilang, “Aku suka lihat kamu yang lagi bobo’.

“Kenapa?” tanya saya.
“Soalnya muka kamu polos banget waktu lagi bobo.”

Di rumah, beberapa kali suami saya bilang, dia lebih suka kalau saya tidur atau ngambek. Soalnya saya pasti diam dan tidak mengusili dia. Maklum, entah kenapa saya suka gatal melihat suami saya yang asyik di depan laptop. Rasanya tidak ‘rela’ kalau dia ‘hidup tenang’ ha ha ha.

“Kamu itu kayak kucing, maunya diperhatikan terus,” ujarnya suatu kali.

Kucing? Kucing itu selalu mengeong dan menempel-nempel di kaki pemiliknya untuk mendapat perhatian. Kalau saya pikir-pikir, sayaini memang mirip dengan kucing peliharaan. Saya suka memanggil-manggil namanya, meskipun tahu dia ada di samping saya.

Nggak berlebihan kalau dia lebih suka saya tidur saat dia melek. Sebab dunianya akan aman dari gangguan saya yang selalu punya akal untuk membuatnya berhenti sejenak dari kesibukannya.

Padahal kalau saya lagi serius kerja dan diajak bercanda, saya akan ngomel-ngomel. Ya ampun, kadang-kadang saya kelewatan juga… Maaf yaa.

“Kamu makannya kok yang kecil, karena yang besar buat aku ya? Ya ampun, kamu kasihan ya, selalu berkorban,” ucapnya suatu kali. Kalimat sederhana yang justru terdengar lucu di telinga saya.
“Kan kamu makannya lebih banyak dari aku hi hi hi,” ucap saya menimpali.

Mungkin saya belum bisa jadi istri yang baik, yang pandai mengurus suami dan rumah. Lihat saja, rumah kami sering berantakan dan disapu dua hari sekali hiks. Lagi-lagi alasannya sok sibuk dan kelelahan. Beda tipis memang sok sibuk dan malas. Saya juga jarang masak, hiks. Masak tampaknya sepele, tapi buat saya itu beraat sekali.

Meskipun saya bukan istri yang baik, tapi saya jamin saya adalah istri yang kuat. Saya kuat mengangkat baju 8 kg untuk dibawa ke laundry. Saya juga kuat membawa barang belanjaan di pasar dan barang-barang berat lainnya. Saya ingatkan, kadang kuat dan mandiri bedanya tipis ya.

Sejauh ini, alhamdulillah saya masih sanggup menahan tekanan yang hari berganti hari selalu datang. Meski kadang terucap lelah, tapi toh saya masih sanggup berlari. Ketika lelah itu sudah sangat membebat, biarkan aku terlelap. Karena lelap itu sesaat menghapus keluhku, menghapus kesalku, menghapus gurat lelahku. Di saat itu nikmatilah melihat wajah polosku yang entah di baliknya sedang bermimpi apa.