Aku bersyukur hidup di tengah keluarga yang meski sederhana namun baik-baik saja. Terkadang orang tuaku bertengkar, tapi kami tetap satu keluarga utuh. Di luar sana, ada anak yang kemudian ‘telantar’ sebagai korban keegoisan orang tua.

Ada temanku yang orang tuanya berpisah. Dia benci sekali dengan ayahnya yang kemudian menikah lagi dan punya keluarga baru. Menurutnya itu tidak adil baginya. Dia merasa kehilangan sosok ayah yang begitu dibutuhkan saat beranjak dewasa.

Ada juga orang yang bergelimang harta tapi kurang kasih sayang. Orang tua sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga anak dibiarkan tumbuh ‘sendiri’. Alhasil dia jadi anak yang seenaknya.

Ada seorang anak yang setelah beberapa tahun tumbuh tidak senormal anak lainnya. Konon penyebabnya antara lain ibunya terjatuh dari sepeda motor saat sedang hamil. Kala itu ayah dan ibunya bertengkar di atas sepeda motor yg melaju kencang dan sang ibu nekat melompat dari motor.

kasihan rasanya melihat anak-anak yang menjadi korban keegoisan orang tua. Kewarasan yang seolah menguap, sehingga tidak peduli bagaimana masa depan dia nantinya. Luka-luka kecil dalam hidupnya. Kekecewaannya. Adalah pernik yang menyertai pertumbuhannya.

Lalu aku, apakah kelak aku bisa jadi orang tua waras? Yang berpikir super jernih tentang masa depan anakku? Yang tidak mengedepankan keegoisanku?