Tags

, ,

“Wah yang naksir lo kerja di PT XXX? Wuih duitnya pasti banyak tuh. Ke mana-mana lo bisa dianter mobil. Paling nggak kalau jalan, lo ditraktir terus.” Itu kalimat yang sering sekali saya dengar. Mendengarnya membuat saya miris.

Saya jadi terpikir kalau sosok saya-lah yang jadi bahan perbincangan. “Hah, cewek lo tuh cuman kayak gitu? Bukan artis? Kok lo mau, kan duitnya dikit.” Kalau dengar seperti itu pasti sedih. Bukan karena mendapati fakta duit saya sedikit lantaran bukan artis, tapi ada semacam ‘merendahkan’.

Jika pilihan dijatuhkan karena pertimbangan materi, lalu apa kabarnya saat materi itu habis. Jika pilihan dijatuhkan karena pertimbangan wajah yang rupawan, lalu bagaimana ketika wajahnya berubah 180 derajat karena musibah. Jika pilihan dijatuhkan karena badan yang aduhai, lalu bagaimana saat badannya melar, bungkuk, dan tak lagi aduhai?

Buat saya, menjatuhkan pilihan tidak sesimpel itu. Pilihan itu, bagi saya, harus diambil saat merasa nyaman. Kadang saya memilih pakai sandal jepit tua yang nyaman, dan bahkan terus saya simpan, ketimbang memakai sandal jepit mewah yang menyakitkan. Tapi tiap orang kan beda. Semua orang tidak seragam semua seperti saya.

Banyak yang membanggakan pasangannya yang berpendidikan super tinggi, memiliki penghasilan super banyak, dan jabatan yang tidak main-main di instansi terkemuka. Ada pula yang begitu bangga pasangannya memiliki wajah demikian molek. Saking bangganya, semua media di dunia maya digunakan untuk mempublikasikan kemesraannya.

Ya, cara seseorang membanggakan pasangannya mungkin beda-beda. Ada yang memang memilih publikasi masif. Tapi ada juga yang tidak. Bukankah kebanggaan dan rasa sayang itu tidak harus selalu diperlihatkan pada dunia?

Entah kenapa ya, kalau saya lebih suka membanggakan pasangan dengan cerita ke teman-teman dekat. Bagaimana pasangan saya memasak, yang meski tampak ajaib dalam proses dan penampakannya, tapi begitu so sweet. Dan cerita lainnya.

Saat kami menikah, di undangan juga nggak ada embel-embel gelar pendidikan atau gelar apapun di awal atau akhir nama kami dan juga orang tua. Buat saya sih ya, nggak ada gunanya juga masang-masang embel-embel itu. Memangnya kenapa kalau yang nikah, misal seorang profesor? Apakah saat ijab kabul, dia bakal dites terkait jenjang pendidikannya? Enggak kan?

Duh nulisnya jadi ke mana-mana. Jadi buat siapapun yang akan menentukan pasangan hidupnya, dan entah bagaimana terdampar di ‘rumah’ saya ini, pilihlah pasangan yang membuat nyaman, bertanggung jawab, dan benar-benar sayang sama kita dan keluarga kita. Semua orang punya masa lalu, jika masa lalu itu buruk untuk dikenang sebaiknya berdamailah.

Ada baiknya juga cari informasi sebanyak-banyak tentang orang yang akan dijadikan pasangan. Selain melalui teman atau keluarganya, tidak ada salahnya juga mencari tahu lewat dunia maya. Cobalah ketikan namanya di mesin pencari di internet, siapa tahu ada jejaknya di sana yang bisa jadi file penting.

Jangan lupa minta petunjuk pada Tuhan. Kadang apa yang menurut kita baik, belum tentu baik di mata Tuhan. Jadi mohon dibukakan jalan untuk mencari tahu yang baik dan yang buruk. Kadangpun, sesuatu yang berjalan baik berakhir buruk. Mungkin itu makanya kita harus selalu meminta penjagaan Tuhan.

Semoga pasangan pilihan ini adalah sosok yang mampu membuat kita jadi pribadi yang lebih baik. Bagi perempuan, maka pasangan pilihan adalah imam yang bisa membuat lebih dekat pada Tuhan. Aamiin.