Tags

, ,

Setiap orang punya keputusan masing-masing dalam hidupnya. Keputusan untuk melamar dan menerima pekerjaan tertentu, keputusan untuk menikah atau tidak menikah, keputusan untuk menikahi seseorang, atau keputusan untuk bercerai. Setiap keputusan tentu ada konsekuensinya. Tidak semua menyenangkan, tapi terkadang pilihan itu diambil karena dirasa menjadi pilihan terbaik.

Rasanya seperti disambar petir ketika mendengar kabar sahabat baik saya saat SMA dulu akan bercerai. Dia menikah lebih dulu daripada saya. Bahkan dia termasuk menikah cepat. Usai lulus kuliah, bekerja sebentar, lalu menikah. Setahu saya, suaminya adalah laki-laki yang sejak dulu dibanggakannya.

Teman saya itu sudah punya dua anak. Keduanya laki-laki. Anaknya yang bungsu baru berusia satu tahun. Saya masih ingat ada keceriaan yang tertangkap dari BBM pemberitahuan kelahiran anaknya beberapa waktu lalu. Tapi setahun kemudian, keceriaan itu seolah lenyap.

Menurutnya, penyebab perceraian adalah perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga. Suaminya selingkuh. Parahnya, selingkuhannya pernah dibawa ke rumah. Jika itu benar, menurut saya, sangat kurang ajar. Bagi saya, banyak hal mungkin bisa dimaafkan. Tapi kalau sudah selingkuh, rasanya berat untuk memafkan. Kalaupun memaafkan, tapi toh semuanya tidak akan kembali seperti dulu. Bukankah gelas yang pernah pecah, bentuknya tak akan lagi sama ketika pecahannya direkatkan kembali?

Saya memang tidak bisa merasakan dengan pasti apa yang sahabat saya rasakan. Tapi saya bisa membayangkan betapa repotnya seorang diri mengurus anak, belum mengurus keperluan yang lain. Meskipun memang anak menjadi energi tersendiri bagi seorang ibu untuk bertahan.

Entahlah, seketika saya terbayang induk ayam. Dia yang melindungi anak-anaknya dengan sayapnya sendiri. Dia juga yang mencari makan untuk anaknya. Sementara pejantannya, sibuk kawin dengan ayam lain. Terlintas juga orang utan yang sempat saya temui di Kalimantan sana. Ke mana-mana induknya menjaga dan membawa anaknya. Karena itu menurut saya salah jika ada yang berpikir perempuan itu lemah.

Di mata saya, perempuan itu kuat. Dengan badannya yang ringkih toh dia bisa memberi perlindungan untuk menjaga anak-anaknya tetap hidup.

Pada akhirnya saya hanya berdoa, semoga sahabat saya dikuatkan dan dimudahkan segala urusannya. Hidup memang tidak mudah dijalani. Tapi jika kita diberi kekuatan, gunung setinggi apapun juga bisa dilewati.