Malas rasanya mendengar kalimat-kalimat yang direntetkan setelah menarik kesimpulan dari premis-premis yang tidak tepat. Apalagi kesimpulan itu kemudian berujung pada nada merendahkan.

“Aku sih malu kalau sudah sekolah S3 tapi tidak bisa memasak.” Mari kita lihat kalimat ini dengan baik.

Premis I: Sudah sekolah S3
Premis II: Tidak bisa memasak
Kesimpulan: Aku malu.

Menurut mata kuliah Dasar-dasar logika, kesimpulan semacam ini bisa dikatakan sesat pikir. Mengapa? Karena sekolah S3 yang diambil itu tidak disebutkan apakah jurusannya tentang masak-memasak. Jika memang bukan jurusan masak-memasak, dan orang tersebut tidak bisa memasak, kenapa kesimpulannya adalah malu?

Kadang seseorang terlalu mudah mengambil kesimpulan dari premis-premis yang tidak tepat. Kesimpulan itu lalu dihujamkan sedemikian rupa hingga menimbulkan luka menganga. Tidak bermaksud melukai? Bisa jadi. Tapi melihat ucapan bertubi-tubi dengan sengitnya, senyum sinis, dan wajah angkuh, itu adalah bahasa tubuh yang siap merajam.

Kadang ya, ada orang di dunia ini yang berharap orang lain sempurna namun tidak membimbing menjadi sempurna. Yang disampaikan hanya ucapan-ucapan yang sanggup membuat hati berdarah-darah.

Soal ‘malu’, kadang seseorang tidak melihat dirinya sendiri, apakah dia sudah sempurna sehingga pantas mengata-ngatai seseorang di hadapannya ‘aku sih malu kalau bla bla bla’.

Dalam kasus ini, saya memilih untuk tidak memihak orang yang sesat pikir dalam kesimpulannya. Jika dia menyadari kesalahannya dan kemudian minta maaf, mungkin akan dimaafkan. Tapi butuh waktu bukan untuk melupakan ekspresi ‘merendahkan’ yang membuat luka menganga itu.

Hebatnya ya, saat ‘korban’ sedang berusaha melupakan, kerap kali si orang sesat pikir dalam kesimpulannya ini malah semakin mencari-cari kesalahan. Alhasil dia semakin punya alasan untuk kembali menampilkan ekspresi sengit. Ya, begitulah hidup….