‘Wajar perempuan memilih pria yang lebih punya duit’. Kalimat ini beberapa hari yang lalu baru saja saya dengar. Ketika mendengar, saya sama sekali tidak setuju. Dari tahun sejak Dinosaurus masih telur, saya tidak pernah mau menyukai seorang pria karena hartanya.

Kalimat yang saya dengar itu seolah diucapkan untuk melegitimasi seorang perempuan yang selingkuh dengan pria lebih kaya. Melegitimasi perempuan bebas meninggalkan kekasihnya demi pria yang lebih mapan yang akan memanjakannya dengan hartanya. Seolah perempuan matre itu wajar.

Mungkin dengan memiliki kekasih yang mapan dan sejahtera, hidup kita akan lebih terjamin. Bagaimana tidak, setiap makan selalu dibayari. Nonton film apapun tinggal bilang, dan modal kita cuma dengkul. Saat akan belanja, sebelum sempat mengeluarkan dompet, si kekasih sudah lebih dulu mengeluarkan kartu debetnya.

Mau ke mana saja diantar mobil yang adem. Alhasil bebas panas dan hujan. Baju pun akan selalu wangi. Karena untuk keperluan seperti itu sudah ada yang ‘menanggung’ maka gaji kita utuh. Rasanya kaya! Mungkin itu yang dirasakan beberapa perempuan. Dimanja itu kalau dilimpahi materi. Tapi kok saya enggak ya.

Kadang memang sebel kalau kita terus yang keluar ongkos. Tapi itu tidak serta-merta membuat saya meninggalkan kekasih saya. Bagi saya, sepanjang saya tahu dia berusaha keras dalam hidupnya, maka mau banyak atau sedikit uangnya, saya tidak terlalu mempermasalahkannya.

Saya selalu takut kalau nyaman dengan pria beruang banyak, maka kelak perasaan itu lenyap saat uang dia habis. Lagipula saya selama ini selalu menanamkan kemandirian di benak saya secara finansial. Saya nggak mau bergantung finansial sama orang lain. Karena bagi saya itu utang. Lagipula apakah kekasih kelak sudah pasti menjadi suami?

Menurut saya, menjalin hubungan atas nama harta itu tidak kekal. Meskipun memang kerap saya jumpai kasus semacam itu, menikah karena dilandasi harta. Membanggakan fasilitas yang diberikan orang lain dan bukan hasil jerih payah sendiri itu kok rasanya memuakkan ya.

Mungkin ada orang yang bilang saya aneh, melewatkan pria mapan yang akan memanjakan saya dengan hartanya seumur hidup saya. Yang akan membuat saya benar-benar seperti putri dengan limpahan materi. Tapi memang bukan seperti itu yang jadi pilihan saya. Mungkin karena sudah terbiasa jadi ‘romusa’, saya nggak bisa tinggal di sangkar emas yang disediakan tanpa melibatkan keringat sendiri.

Saya kini sadar, bahwa saya memang tidak banyak berubah. Dulu ketika saya sedang belajar menjalani hidup, saat masih merangkak-rangkak, ternyata diri ini masih saja sama meskipun sudah bisa berlari lebih cepat. Karena bagi saya, sederhana bukan berarti bisa memiliki aneka barang mewah dan kehidupan mewah, tetapi memilih untuk tidak berlebihan. Dan sederhana itu adalah pilihan. Sebagaimana mereka yang memilih untuk hidup mewah, meskipun ‘menumpang’ kemewahan orang lain.