Tags

, , , ,

Dulu, saya pikir saya akan menikah dengan Teuku Ryan. Tapi pupus sudah ketika Ryan menikah dengan Vira Yuniar. Satu ketika, saya merasa akan menikah dengan Alessio Tacchinardi, tapi hari demi hari berlalu, saya tidak juga bisa bertemu dengannya. Hingga akhirnya, pria itu, ya pria yang 35 bulan menjalin hubungan dengan saya membawa keluarganya dan melamar.

Kami sebisa mungkin mempersiapkan segalanya dengan baik. Bermula dari mencari cincin pertunangan. Mulanya kami berpikir akan membeli cincin perak saja. Selain lebih murah, juga ‘aman’ dipakai calon suami saya yang memang tidak mengenakan emas. Namun keluarga mendorong agar kami membeli emas, sehingga akhirnya kami memesan cincin emas.

Kami memesan cincin itu di Cikini. Satu kali datang ke tempat itu hari Minggu, ternyata tutup. Alhasil kami nongkrong di stasiun, membicarakan banyak hal, hingga akhirnya makan mi ayam bakso kesukaan kami di dekat stasiun.

Pekan berikutnya, perburuan cincin kembali dilanjutkan. Kami membeli cincin sederhana dengan ukiran nama di bagian dalamnya. Fiuh satu ‘tugas’ selesai.

Lamaran kala itu digelar di Yogyakarta, di rumah Pakde dan Bude saya. Itu sesuai permintaan ibu saya. Saya dan calon suami kala itu benar-benar mengencangkan ikat pinggang, karena kami berniat membiayai semua keperluan lamaran ini, sehingga tidak membebani orang tua. Tiket pesawat maupun rental mobil, sebisa mungkin kami turut andil.

Saat lamaran digelar juga saya tidak meris diri ke salon. Pakaian yang saya kenakan adalah pakaian sepupu saya. Meski banyak yang meminta saya ke salon, tapi kala itu saya enggan mendengarnya. Lagipula esensinya kan bukan tampil cantik saat acara.

Akhirnya disepakati kami akan menikah pada April 2013. Jaraknya sekitar 5 bulan dari hari lamaran.

Seserahan

Seserahan adalah salah satu yang perlu dibawa pihak calon suami. Untuk ini kami membelinya nyicil. Iya, perlengkapan dari ujung kaki sampai ujung rambut untuk calon mempelai perempuan.

Kadang saya membeli seserahan sendiri, saat sedang jalan-jalan, yang nantinya akan saya ‘klaim’ ke calon suami. Perlahan tapi pasti semyua keperluan itu terkumpul. Saya sendiri bukan tipe orang aji mumpung. Mumpung dibeliin calon suami terus memilih yang mahal-mahal. Semua yang dibeli tergantung apa yang saya butuhkan. Merek barang-barang pun seperti yang sehari-hari saya pakai.

Sepatu, sandal, baju, perlengkapan make-up, perlengkapan mandi, alat salat, dan semuanya sudah siap. Keluarga calon suami menambahkan keperluan lain seperti seprai dan bed cover untuk ‘menyemarakkan’ seserahannya.

Pre wedding?

Kami skip yang namanya foto-foto pre wedding. Buat kami berdua, kurang bermanfaat, tepatnya kurang bermanfaat bagi dompet kami he he he. Ini pilihan kok. Buat kami, yang ini tidak perlu. Lagi pula kami kurang ada waktu untuk mencari lokasi dan berpose-pose cantik lagi mesra yang kami sendiri juga nggak tahu, nanti fotonya mau ditaruh di mana. Prinsip kami dulu sebelum menikah, ketimbang foto-foto prewed, mending nyari-nyari rumah untuk sarang kita masa depan. Jadi soal ini, kami miskin pengalaman.

Undangan

Kebetulan pesta pernikahan digelar di rumah orang tua saya di Cilacap. Mulanya saya ingin syukuran digelar di gedung agar ibu saya tidak capek. Tapi ibu dan keluarga keukeuh menggelar di rumah, apalagi halaman rumah kami cukup luas. Ya sudah kalau begitu, saya mengangguk setuju saja.

Untuk undangan, saya pesan di Cilacap, di tempat kakak kelas saya saat SD. Saya pilih desain undangan sederhana yang saya suka. Warnanya putih dengan sedikit ornamen hijau. Di sampulnya tertulis beberapa kata dalam bahasa Italia. Di paling atas undangan tertulis kalimat: Questa e la storia di un grande amore. Storia di un grande amore itu melekat benar pada klub sepakbola Juventus. Soalnya ada salah satu lagu Juve yang menggunakan kalimat itu. Sebagai Juventini, kami pun berniat menukil kalimat itu untuk menjadi bagian dari perjalanan cinta kami. Cieee.

Oh iya, harga undangannya cukup murah. Sekitar Rp 4.000 per lembar. Sebenarnya ada 2 jenis undangan. 1 Undangan untuk teman-teman saya dan calon suami, dan satu lagi undangan untuk teman-teman ibu saya.

Make up dan Dekorasi 

Saya memilih perias pengantin yang terkenal bagus di kota saya. Memang agak mahal, setidaknya menurut saya, tapi konon hasilnya sangat memuaskan. Akhirnya karena nggak mau ribet, kami mempercayakan make up, dekorasi, serta foto video untuk diurus oleh perias pengantin itu.

Selama prosesi, nantinya kami akan berganti pakaian dua kali. Saya memilih warna silver dan emas untuk pakaian kami. Sementara kamar pengantin dihias dengan dekorasi warna silver.

Tidak ada ritual basahan dalam prosesi nikah kami. Alasannya satu: saya tidak mau ribet. Lagipula dengan pekerjaan saya di Jakarta yang cukup padat, saya tidak mau berlama-lama mengambil cuti.

Makanan

Untuk makanan ada yang pesan dan ada yang memasak sendiri. Super duper repot memang. Tapi ya sudahlah, ini juga kan keinginan keluarga. Saat syukuran, kami menyediakan gudeg, nasi ‘rames’, satai ayam, bakso, dan es krim. Ada pula aneka snack yang dinikmati sebelum menyantap makanan berat.

Penginapan

Saya dan calon suami sebelumnya juga mencari penginapan untuk keluarga besarnya yang datang dari luar Cilacap. Kami keluar masuk penginapan seputar Cilacap demi membandingkan harga dan juga lokasi. Akhirnya dipilih penginapan yang jaraknya sekitar 4-5 km dari rumah saya. Tak lupa karena memesan kamar banyak, kami minta keringanan harga. Di saat seperti ini, beberapa rupiah saja, sangat berarti.

28 April 2013, akhirnya saya resmi berstatus sebagai istri. Ning nang ning nong…. Jadi ratu dan raja sehari. Capek banget, ada hal-hal yang kurang memuaskan, tapi secara keseluruhan kami senang, bisa cukup mandiri untuk menggelar prosesi yang insya Allah sekali seumur hidup ini.