Tags

,

Foto: Wikimedia

Saat kecil dulu aku selalu bertanya-tanya kenapa induk ayam galak. Ada orang yang lewat di dekatnya saja, si induk yang sedang bermain bersama anak-anaknya langsung pasang ‘kuda-kuda’. Kini, setelah menjadi induk, sedikit-sedikit aku mengerti kenapa induk ayam yang baru menetaskan telurnya itu galak.

Bahwa menjadi induk yang baik itu tidak semudah membalik telapak tangan. Seorang induk harus memastikan anaknya mendapat cukup makan. Aku sebagai induk manusia pun melakukan hal yang sama. Kususui anakku yang masih bayi secara langsung atau kuperah ASI saat aku berjauhan darinya.

Lagi-lagi ini tidak gampang. Masih kuingat sakitnya puting yang lecet dan berdarah-darah di awal menyusui. Belum lagi sakitnya penyumbatan ASI, dan juga saat muncul milk blister.

Untuk ibu bekerja, memberi ASI juga punya tantangan besar. Beruntung di kantorku ada ruang laktasi, yah meskipun kecil, tapi cukup membantu. Namanya juga bekerja, kadang cukup sibuk dengan setumpuk pekerjaan, sehingga aktivitas pumping sering kali dilakukan dengan terburu-buru. Harus pandai-pandai mengatur diri agar stres tidak memengaruhi produksi ASI. Padahal kerap kali yang bikin stres bukan cuma soal kerjaan.

Awal-awal menjadi induk, senang tapi juga begitu menjadi begitu lelah. Si kecil masih sering menangis tengah malam, mau tidak mau aku pun harus begadang. Ini masih berlangsung sampai aku kembali masuk bekerja. Kurang tidur di malam hari, berjibaku di siang hari. Mungkin ini yang kemudian kerap kali membuat emosi tidak stabil. Dan aku pun mungkin segalak induk ayam yang kulihat saat kecil.

Setelah menjadi induk baru kupahami benar perjuangan ibuku membesarkanku, terlepas dari adanya sosok bapak. Bahwa ibulah yang membuat anaknya tidur lelap dengan perut kenyang. Bahwa ibulah yang membuat anaknya nyaman. Menjadi iibu itu menurutku harus punya kekuatan ‘super’. Karena dia tidak sekadar membesarkan anak, tapi juga bekerja, dan juga mengurus rumah.

Setelah seharian si anak menempel, lalu anak berhasil ditidurkan, apakah si induk akan juga beranjak tidur? Belum tentu. Karena saat itu, bisa jadi dia akan mulai mengerjakan pekerjaan lainnya.

Bahkan seorang induk pun masih tetap membutuhkan induknya. Ya, aku senang sekali jika ada di dekat ibuku. Dia yang tidak cuma memberi perhatian dengan mengingatkanku pumping, tapi juga action sebagai bentuk dukungan. Ya, bahwa mengingatkan pumping itu mudah sekali. Tapi tidak semudah ikut duduk untuk pumping bersama sambil memijat punggung dan menyiapkan camilan bernutrisi.

Dulu, saat aku masih cuti melahirkan, ibuku akan ikut bangun di tengah malam bersamaku, padahal dia baru tidur sebentar. Menemanikan pumping atau menyusui si kecil, lalu dengan manisnya memberikanku segelas sari kurma dan memotong-motong apel.

“Menyusui itu bikin lapar. Ayo makan yang banyak biar ASI-nya banyak,” begitu kata ibuku.

Di saat lain, dia akan menyuruhku tidur. Sementara dialah yang akan menggendong dan menjaga si kecil untuk menenangkannya. “Kalau kamu kurang tidur, nanti sakit. ASInya juga bisa seret nanti,” begitu ujarnya.

Hu hu hu di saat seperti ini jadi kangen berat ibuku. Tangan kecilnya, tubuh kurusnya, bagiku adalah sayap dan tubuh besar yang hangat, Tempat di mana aku selalu merasa hangat dan nyaman. Selelah apapun dia dengan harinya, dia akan selalu berdiri kokoh di sampingku, mendukung langkah-langkahku.

*anak ayam yang merindukan induknya*