Tags

, ,

Terkadang kita memang mudah sekali lupa. Kadang kita lupa pada orang yang telah dengan baik membayari makan dan minum. Kadang kita lupa pada kebaikan orang yang telah memberi pinjaman uang, bahkan mungkin sampai lupa membayar.

Kadang kita lupa telah meminjam barang, sehingga tidak dikembalikan dan rasanya barang itu sudah seperti milik kita sendiri.

Kadang kita lupa ada orang yang telah memberi kita kebaikan dan perhatian. Saking dianggap sepele, sehingga kita tidak memberikan hal yang sama.

Bahwa dilupakan itu terkadang menyakitkan. Bahwa dipinggirkan itu kerap kali terasa perih. Kadang kita merasa dekat dengan seseorang tapi dia tidak merasa hal yang sama. Kadang kita mengistimewakan seseorang tapi rasanya seperti dihujam ke dasar bumi ketika tahu kita tidak sebegitu besar artinya.

Terkadang kita lupa memberi seseorang padahal kita memberi barang yang sama ke yang lain. Mungkin remeh temeh, tapi meski seremeh jarum, jika menusuk kulit tentu akan menimbulkan sakit. Itulah rasanya ‘terlupakan’.

Terkadang hidup memang begitu. Tidak ada sesuatu yang benar-benar sama, setara, dan seimbang. Tapi apakah dengan begitu kita akan berubah menjadi tidak baik?

Kadang kita akan berpikir, ya sudah cukup tahu saja. Tapi setelahnya apakah akan ada yang berubah? Mungkin akan tetap baik seperti kemarin, dan yang dulu-dulu. Tapi mungkin tidak lagi menjadikan seseorang lebih istimewa ketimbang yang lain.

Kadang hal yang begitu remeh bisa menyakitkan. Iya, seperti ‘cacian’ yang demikian biasa dilontarkan dan hal lainnya. Ah sudahlah, jangan jadikan seonggok duri terlihat besar seperti gunung.