Tags

, ,

Saat ini, saat usia kita masih produktif, mungkin sedang banyak dibutuhkan tenaga dan pikirannya. Mungkin kita menduduki posisi penting di pekerjaan. Mungkin kita diberi bayaran tinggi. Mungkin kita punya sederet gelar akademis. Tapi itu bukan alasan untuk melukai orang lain.

Terkadang kita ingin dihormati orang. Ingin orang lain bersikap sopan pada diri kita. Tapi sering kali kita lupa untuk menghormati dan bersikap sopan pada orang lain. Karena kita merasa lebih superior, acap kali aturan ‘hormat’ dan ‘sopan’ adalah versi kita sendiri. ‘Kamu harus sopan sama saya, tapi kesopanan saya sama kamu itu terserah saya.’

Mungkin kita juga sering lupa. Tapi tanpa sadar tidak menolerir kealpaan orang lain. Saat diri sendiri lupa, karena merasa superior, lalu melimpahkan kesalahan pada orang lain. Orang lain yang bertanggung jawab atas kelupaan kita. Dan kita berhak marah karenanya.

Karena merasa lebih hebat, jika salah maka kita lupa minta maaf. Mungkin kita merasa kata ‘maaf’ hanya pantas diucapkan orang lain kepada kita. Sebagai orang yang ‘sempurna’ tidak ada kata maaf dalam kamus kita.

Terkadang hanya demi mempertahankan image hebat, kita menginjak orang lain. Agar terlihat hebat, kita salahkan orang lain. Untuk tampak sempurna, kita melukai orang lain.

Kadang tidak sadar bahwa hidup ini sementara. Jika Allah berkehendak, wajah rupawan kita esok hari bisa saja hilang. Harta benda berlimpah yang kita banggakan bisa musnah dalam waktu singkat. Jabatan yang kita agungkan bisa saja hilang. Gelar akademis yang berderet bisa saja jadi tidak dipandang.

Mungkin esok hari kita tak lagi bisa berkata, karena Allah mengambil suara kita. Mungkin kita sudah terbujur kaku, dengan sederet penyesalan karena belum sempat berkata maaf pada orang yang kita lukai secara semena-mena, hanya demi tatapan hebat orang-orang lainnya.

Saat masih di atas, kita lupa bahwa hidup hanyalah fase singkat. Kita lupa bahwa seharusnya sebagai orang berpendidikan dan memiliki harta benda melimpah, harus pandai melihat sudut pandang orang lain yang lebih lemah, dan bukannya malah melukai dengan sombongnya.

Semoga hari-hari kita tidak diisi dengan pencitraan belaka. Semoga kita tidak sedang melukai orang lain untuk kepentingan kita sendiri. Jika memang pernah melukai, semoga kita diberi kesempatan untuk minta maaf. Semoga yang kita lukai pun berkenan memaafkan.