Seseorang yang bekerja di rumah kami meminta puing reruntuhan, tidak lama setelah kami selesai merenovasi sedikit bagian rumah. Katanya puing itu untuk ditaruh di jalan dekat rumahnya yang kerap becek saat musim hujan.

Karena merasa ekonomi dia tidak sebaik kami, kami menawarkan untuk membayar gerobak guna mengangkut puing dari rumah kami ke rumahnya. Plus uang untuk membeli karung untuk memudahkan membawa puing.

Betapa kagetnya kami, karena dia meminta imbalan untuk mengangkut puing. Tentu kami kaget, karena kami tidak meminta dia membuang puing. Dia sendiri yang meminta puing-puing itu. Tapi kami tidak mau menjadikannya masalah. Kami bayar ongkos mengangkut puing. Rp 50 ribu.

Jika saja dia lebih ikhlas mengangkut puing, mungkin dia akan mendapatkan lebih. Ya, pagi itu kami berencana menaikkan gajinya Rp 50 ribu, karena dia telah berinisiatif membuat rumah kami lebih bersih. Rencananya kami ingin menaikkan gajinya pada bulan depan.

Tapi karena dia tidak ikhlas, kami pun mempertimbangkan lagi untuk menaikkan gajinya bulan depan. Maklum, dia bekerja pada kami belum setahun. Sementara itu dia pun sering absen, kadang tanpa pemberitahuan.

Seandainya dia lebih ikhlas, lebihan Rp 50 ribu tidak hanya dinikmatinya sekali, melainkan setiap bulan mulai bulan depan.

Mungkin hal-hal seperti ini pun terjadi pada kami di tempat kerja. Mungkin bos kami hendak memberi bonus besar, tapi karena suatu kali kami begitu mengesalkan dan tidak profesional lantaran kurang ikhlas saat bekerja, bonus besar itu urung mampir.

Yang seperti ini bisa terjadi pada siapa saja….