Tags

, , , , , ,

good_manners_grow-500x270

Foto: http://www.ardenzachildcare.ie/

Hal yang remeh-temeh sering kali tidak mendapat perhatian khusus. Padahal justru dari hal-hal kecil itu sering kali menimbulkan dampak besar.

Maaf, tolong dan terimakasih. Tiga kata ini sangat-sangat simpel, tapi beberapa orang kerap melupakannya. Karena begitu simpel dan entengnya jadi begitu mudah terlupa untuk diucapkan. Tapi jangan salah, karena sebegitu entengnya, beberapa orang gengsi untuk mengatakannya.

Padahal 3 kata ini bisa membuat orang lain merasa dihargai. Coba saja mengucapkan terimakasih kepada abang pengangkut sampah yang bertugas mengambil sampah rumah tangga di rumah kita. Ucapan kita membuat si abang menyungging senyum.

Saya juga mengucapkan terimakasih kepada Taqi, si bocah 1,5 tahun, yang sudah menolong saya membuang tisu ke tempat sampah atau mengambilkan saya tisu untuk mengelap sisa makanan di lantai. Apa responsnya? Taqi menatap saya dengan tatapan bangga. Mungkin dia bangga karena sudah bisa membantu ibunya. Dia bangga karena upayanya dihargai.

thank-you-post-it-1024x640

Foto: http://childrensnurturingproject.org/

Tapi kadang ucapan terimakasih terasa begitu berat diucapkan dan dianggap nggak penting karena gengsi. Gengsi entah karena merasa lebih kaya, lebih berpendidikan, lebih mampu, dan setumpuk gengsi lainnya.

Kata tolong juga kerap kali dilupakan. Sering kan kita minta orang lain melakukan sesuatu. Tapi tanpa kata tolong, permintaan kita itu terasa seperti perintah. Beberapa orang cenderung malas diperintah-perintah. Apalagi dengan nada-nada yang sok-sok bossy gitu.

“Taqi, tolong ambilkan tisu.”
“Taqi, ambilkan tisu.”

please-image-300x278

Foto: http://bethcarterenterprises.com/

Mana yang lebih enak didengar? Bagi saya kalimat yang mengandung tolong. Terbukti orang yang saya minta melakukan sesuatu dengan kata tolong melakukan dengan lebih senang hati dan bersemangat, ketimbang tanpa kata tolong. Ini memang ‘survei’ subjektif, tapi nyata lho umumnya yang terjadi begitu.

Kata tolong juga membuat orang lain lebih dihargai. Mereka tidak merasa diperintah dan merasa sejajar. Saya sendiri merasakannya saat diminta melakukan sesuatu oleh atasan di kantor.

Satu lagi, kata maaf. Ini juga kadang sering terlupa dan diremehkan. Mungkin maaf tidak akan mengembalikan gelas yang pecah jadi utuh lagi seperti semula. Tapi setidaknya maaf membuat keadaan jauh lebih baik.

Beberapa waktu lalu membahas soal ‘minta maaf’ ini sama suami saya. Kami sepakat mengajarkan konsep maaf pada Taqi. Iya, konsep maaf. Bukan sekadar kata maaf.

77f848993bdc3112344a6ccb20683432

Foto: Pinterest

Jadi misalnya Taqi lagi main menyusun wadah-wadah play dough-nya menjadi menara. Lalu saya tidak sengaja menyenggol sehingga menara itu roboh. Dalam situasi itu saya minta maaf dan saya membantu Taqi membuat menara lagi.

Jadi sebisa mungkin setelah kata maaf yang kita ucapkan, diikuti dengan tindakan untuk memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan. Itulah itikad baik. Itulah komitmen. Itulah bukti penyesalan. Bahwa maaf diucapkan setelah kita melakukan kesalahan atau karena merepotkan orang lain. Namun sebaiknya ada hal lain yang dilakukan untuk ‘menebus’-nya, meskipun itu hanya sekadar memberi ucapan terimakasih atas respons ‘tidak apa-apa’ yang disampaikan.

Pendidikan kita memang bisa begitu tinggi. Mungkin kita juga bisa hidup bergelimang harta. Tapi itu bukan alasan untuk tidak menghargai orang lain. Setidaknya dengan tidak lupa mengatakan, maaf; tolong; dan terimakasih. Karena bagi saya, ketiga kata super simpel itu masih merupakan kata-kata ajaib untuk membuat sesuatu menjadi lebih baik.