Tags

, , ,

vibrant-home-library-with-a-traditional-touch

Foto: decoist.com

Mimpi punya perpustakaan itu sudah ada sejak dulu, sejak aku kecil. Sejak bapakku sering pulang membawa aneka buka cerita dan majalah anak-anak. Bahkan aku pernah menyusun buku-buku itu di kursi pojok rumah. Berpura-pura memiliki perpustakaan sendiri.

Waktu bergulir. Buku-buku yang kumiliki semakin bertambah. Biasanya aku pup sambil membaca buku. Jadi sering kali aku berlama-lama di WC. Yah, meskipun kebiasaan itu harus ‘dibayar’ dengan hadirnya wasir suatu hari.

Aku dan adikku saat itu bahkan memesan stempel untuk menandai buku-buku kami. Kami bermimpi kelak bisa memiliki perpustakaan bernama Juventa.

Mimpi memiliki perpustakaan itu tidak hilang kendati bertahun-tahun berselang. Bahkan ketika aku sudah bekerja, ‘harta’ terbesarku adalah buku-buku. Setiap kali pindah kost, butuh perjuangan ekstra memang untuk mengangkutnya.

Sering kali mengkhayal kelak punya rumah dengan perpustakaan yang juga berfungsi sebagai tempat kerja. Di ruangan itu aku bisa berkontemplasi, menulis banyak hal dari berbagai sudut pandang. Suatu saat jika ingin menulis cerpen dengan setting daerah tertentu, aku bisa membuka salah satu buku yang aku punya. Entahlah, dengan buku-buku aku merasa kaya.

Dulu aku sensitif sekali dengan buku yang kumiliki. Jika ada yang meminjam, kemudian memulangkan dengan lembaran yang terlipat atau ada coretan permanennya, aku kesal sekali. Apalagi jika bukunya tidak dikembalikan. Gondoknya setengah mati. Sekarang sensitivitas itu masih ada. Yakni ketika buku-buku itu dijauhkan dariku. Seperti merasa mimpiku dibunuh. Seperti merasa eksistensiku dihapus.

Maklum, untuk mendapat buku-buku itu tidak selalu mudah. Kadang ada yang kudapat ketika berada di negara lain. Kadang karena dikasih orang. Kadang karena sudah nggak dicetak lagi, dan sebagainya.

Envy banget lihat blog seorang teman yang berhasil mewujudkan ‘perpustakaan’ impian melalui rak bukunya. Rak buku itu memiliki dua ‘wajah’. Wajah pertama untuk menyimpan buku. Sementara wajah lainnya semacam etalase untuk koleksi pernak-pernik sepakbola suaminya. Menurut saya, itu adalah rak paling romantis.

Suatu kali ketika berkunjung ke rumah teman yang dulunya satu kantor, di ruang tamunya yang tak bisa dibilang luas aku melihat perpustakaan kecil. Oke, itu memang cuma beberapa rak kayu jati yang ditata sedemikian rupa. Tapi asli banget bikin iri. Sebuah tempat di mana dia dan suaminya bisa menyimpan buku-buku kesayangan, atau hanya diktat kuliah yang berisi hal-hal dirasa penting.

Mimpi punya perpustakaan sendiri di rumah itu masih ada. Makanya sering dan senang banget melihat-lihat desain perpustakaan mini di rumah. Mulanya mimpi itu terasa di depan mata saat aku berhasil membeli rak buku. Bahkan waktu itu lama sekali mencari-cari model rak yang sekaligus bisa digunakan sebagai partisi.

home-is-font-b-love-b-font-font-b-dreams-b-font-home-decor-font-b

Tapi ternyata mimpi itu tidak sedekat yang dibayangkan. Buku-buku masih saja di kardusnya. Hanya sedikit yang tertata di rak. Terlebih tertempel televisi di rak tersebut, sehingga peran rak buku kurang maksimal.

Waktu berlalu dan mimpi itu masih ada. Semoga tidak dihapus. Meski memang mewujudkan mimpi tidak semudah membalik telapak tangan. Pasti ada rintangan. Ada penentangan. Ada hal-hal di luar rencana.

Semoga ada jalan mewujudkannya. Entah kapan….