Tags

,

anime-family-spring-happiness-street-3840x2400

Kalau dapat pertanyaan ‘pengasuhan anak tanggung jawab siapa’ mungkin terdengar seperti pertanyaan bodoh. ‘Ya jelas tanggung jawab orang tuanyalah.’ Mungkin demikian jawaban beberapa orang dengan nada tinggi. Idealnya begitu, tapi dunia memang tidak ideal.

Orang tua di sini tentu sosok ayah dan ibu sebagai ‘tim’ dalam pengasuhan dan pendidikan anak di rumah. Namun di tengah masyarakat masih sering ditemukan pengasuhan yang lebih cenderung dibebankan pada satu sosok saja, entah ibu atau entah ayahnya saja. Selain itu ada pula yang menyerahkan pengasuhan sepenuhnya ke pengasuh yang dibayar ataupun kakek dan neneknya.

Meski awalnya sudah jadi komitmen bersama bahwa pengasuhan dan pendidikan anak akan dilakukan secara imbang oleh ayah dan ibu, seringkali nyatanya tidak demikian. ‘Kodrat ibu mengasuh anak’ seolah jadi pembenar beberapa suami untuk mengurangi keterlibatannya dalam pengasuhan anak.

Lagi-lagi perempuan yang harus menyelesaikan semua. Apalagi bagi perempuan yang bekerja. Seabrek tugas kantor harus dikerjakan sama baiknya dengan kepengurusan anak di rumah. Belum lagi pekerjaan rumah lain yang harus diselesaikan.

Terbiasa bersama ibu, membuat anak, umumnya yang berusia batita, akan terkesan lengket berlebihan pada sosok ibunya. Jika Anda mengalami hal ini, jangan terburu-buru ‘menyalahkan’ temperamen anak. Coba lihat dulu kebiasaan apa yang dilakukan orang tua.

Jika anak hanya bisa tidur jika bersama ibunya, ini mungkin karena peran ayah yang kurang dalam menemani anaknya tidur. Sering saya dengar suami berkata pada istrinya yang sedang sibuk bekerjadi rumah, “Anaknya ngantuk, tidurin dulu”. Saat ibu mencoba menidurkan anak, ayah malah menjauh dan seperti berkesempatan melakukan hal-hal lain yang sebenarnya kurang penting.

Ketika anak sering merasa tidak nyaman bermain saat ibunya tidak ada, mungkin peran ayah juga kurang di sini. Misalnya ketika anak bermain dengan ibunya, ayah malah sibuk dengan gadgetnya. Begitu anak sedang bersama ibunya, ayah merasa ‘wah ini kesempatanku untuk nonton YouTube, cek Twitter, main game, dll’ dan akhirnya lupa waktu.

Saat anak selalu memaksa ayah melakukan sesuatu yang tidak pernah anak paksakan pada ibunya, misalnya meminta naik sepeda motor, ini juga jangan disalahkan anaknya dulu. Anak itu belajar pola. Ketika anak menangis meminta sesuatu, bahkan tantrum, jika memang tidak sesuai aturan yang ditetapkan ya jangan diberikan. Ketika orang tua bersikap tidak konsisten, maka itu pun dipelajari anak. Jadi jangan salahkan anak jika kepada ayah, anak jadi rewel ketika permintaannya tidak dituruti.

maxresdefault

Ketika pengasuhan anak masih terlalu berat pada satu figur, itu yang membuat suami atau istri kelabakan saat harus mengasuh anak seorang diri. Apalagi, pengasuhan anak memang tidak mudah. Butuh stok kesabaran luar biasa di sana.

Bayangkan ketika anak apa-apa maunya sama ibunya karena pengasuhan yang porsinya jauh lebih besar pada ibu, suatu kali ibunya harus bekerja dan ayahnya yang mengasuh, apa yang terjadi? Ayah akan kelabakan. Ayah tidak pernah siap berdua di rumah bersama anaknya.

Ketika sang ibu, misalnya, harus dinas luar kota beberapa hari, apa pilihan ayah? Bisa jadi memilih menitipkan anak kepada kakek-neneknya lantaran ketakutan akan ‘direpotkan’ anak. Padahal jelas, tanggung jawab pengasuhan dan pendidikan anak, ayahnya yang lebih memiliki kewajiban ketimbang kakek atau neneknya.

Mengutip artikel di detikHealth, menurut psikolog Ade Dian Komala, jika anak lebih lengket dengan ibu karena pola asuh lebih banyak ibu yang mengurus, maka ini harus diubah. “Karena peran ayah untuk batita juga sangat penting. Kalau pola asuh zaman dulu ya ibu yang banyak mengurus anak sedangkan ayah mencari uang, jadi anak lebih deket sama ibunya. Namun sebenarnya pola asuh itu sama perannya, anak harus dekat dengan keduanya, misalnya ibu istirahat maka ayah yang pegang anaknya, sehingga keduanya lekat,” papar Ade.