Tags

, , , , ,

gochuumon-s2-ep8-scr3-300x169

Pernah dalam situasi teman yang bercanda terlalu berlebihan pada kita? Kadang kita diam saja, ikut tertawa, padahal dalam hati tersayat-sayat. Jika memang tidak berkenan, kita memang perlu berkata tegas.

Ini saya alami pekan lalu. Beberapa kali teman sekantor saya memang pernah bercanda soal fisik. Jadi ceritanya teman saya ini sedikit lebih tinggi daripada saya. Nah, dulu pernah dia bercanda dengan mengatakan saya boncellah, katelah, kontetlah, dsb. Saya menanggapinya santai saja. Tapi diam-diam hati saya nggak terima.

Peristiwa senada terjadi pekan lalu. Lagi-lagi tempat kejadian perkaranya di kamar mandi kantor. Kebetulan di kamar mandi memang ada cermin besar, jadi di situ terlihat jelas sosok siapa saja yang berdiri di sana.

“Ternyata gue lebih tinggi daripada elo ya,” kata teman saya itu sambil tertawa dan merangkul saya.
“Bukannya udah lama begitu?” jawab saya.
“Ha ha ha iya ya, lo kan pendek,” imbuhnya.

Ucapan itu didengar teman kami lainnya yang kebetulan sedang berada di bilik kamar mandi. Dia ikut tertawa dan mengatakan, “Ha ha ha daleeem,” ucapnya.

“Eh jangan main fisik ya. Jangan becandaan fisik, gue nggak pernah bawa-bawa fisik. Allah marah lho,” kata saya masih berusaha santai.

Ternyata itu belum selesai. Saat teman saya yang baru dari bilik itu keluar, percakapan soal tinggi badan saya masih berlangsung.

“Elo redxxx paling paling pendek, ha ha ha,” kata teman saya, sebut saja si NS, sambil tertawa.
“Coba diulas apa yang menyebabkan pendek kayak gini,” imbuh teman saya yang baru keluar dari bilik.
“Bisa saja genetika. Ibuku kan kecil, meskipun ayahku tingginya lumayan. Tapi tolong ya jangan ngomong soal fisik, aku sensitif soal ini. Nggak lucu bagi aku becandaan model begini. Kan aku nggak pernah bawa-bawa fisik kalian,” ujar saya dengan suara berat, meskipun wajah datar-datar saja.

Akhirnya pembicaraan teralih. Saya yang bisa saja ‘menyemburkan api’ dari mulut kalau topik nggak berubah, tetap kembali tertawa renyah. Bercandaan fisik, bisa jadi bentuk bullying. Dan bullying bukan hanya dialami anak-anak. Bullying pada orang dewasa bisa terjadi. Lingkungan kerja bisa jadi tempat untuk bullying. Hati-hati…

Berkatalah tegas jika memang tidak nyaman. Bukan marah, buka asal gampar, bukan asal tusuk, tapi bicaralah kalau kita memang tidak nyaman.