Kalau bukan keset lantas apa ketika semua beban ditimpakan di pundak? Beban finansial, sampai dominasi urusan domestik dan limpahan muka masam saat harus mengais rupiah di saat orang lain menjeda.

Ketika beban berkurang, namun lantas menanyakan komitmen karena rencana baru yang kurang realistis lantas dianggap sebagai tohokan. Seperti amnesia saat keberatan-keberatan disampaikan dengan bahasa santun, namun tidak digubris. Lalu merasa disayat saat keberatan disampaikan berapi-api.

Apakah selalu salah saat mengingatkan kewajiban? Bahkan hak pun sering diabaikan, tidak dipedulikan.

Mungkin sudah takdir harus belajar bungkam. Bungkam jika kelak kembali mendapat penghakiman yang lahir dari premis-premis tak bertaut. Bungkam jika harus tidak mendapatkan hak. Bungkam sampai tubuh berkalang tanah. Terimalah nasib.

 

Advertisements