Tags

, , ,

Ada alasan di balik setiap hal, termasuk alasan menulis blog. Menulis blog sebenarnya sudah saya lakukan sejak sekitar 10 tahun lalu. Saat itu, blog bagi saya adalah media untuk curhat, sehingga fungsinya tak lain hanya sebagai diary digital.

Masih ingat media sosial Friendster? Tidak hanya berbagi foto, di sana kita juga bisa berbagi catatan panjang. Karena itulah dulu saya memanfaatkan Friendster sebagai blog.

Lalu ada juga Multiply yang sempat menjadi ajang bagi saya berbagi cerita. Itu bertahun-tahun lalu saat usia saya masih awal 20-an, saat-saat masih suka galau perihal asmara.

Seiring tumbangnya Friendster dan Multiply, saya lantas beralih ke blogspot dan wordpress. Tapi entah kenapa saya merasa lebih klik dengan wordpress, sehingga lebih aktif menulis blog melalui platform ini. akupunmenulis.wordpress.com sudah berusia hampir 10 tahun.

Selama ini saya nulis blog ya nulis-nulis saja. Apa saja yang terlintas di kepala, apa saja yang dirasakan segera dituangkan dalam tulisan blog.

Bertahun-tahun terakhir ini nggak terlalu aktif nge-blog. Mungkin karena kelelahan dengan pekerjaan kantoran dan lebih banyak main-main sama si kecil.

Mengikuti kelas di Nulis Yuk membuat saya berefleksi, sebenarnya apa alasan saya perlu nge-blog. Ya, meskipun itu tadi, beberapa tahun belakangan tidak terlalu aktif dan kini berniat ingin lebih aktif.

Setelah merenung, cie pakai perenungan, akhirnya saya menyadari ada 5 alasan yang membuat saya perlu nge-blog.

  1. Terapi

Nge-blog bagi saya berarti menulis, dan menulis bisa menjadi terapi. Terapi bagi diri saya saat kesedihan melanda, saat kegalauan menyapa, ketika merasa sepi di tengah keramaian.

Sering kali ada kelegaan luar biasa ketika menghamburkan kata-kata yang merupakan ekspresi perasaan. Marah yang memeluk diri dengan begitu erat, seketika terasa longgar dan bahkan saya bisa meloloskan diri dari emosi itu.

Saat diri merasa tidak oke, menulis di blog seperti sedang bicara pada diri sendiri. Seperti sedang membantu diri sendiri berefleksi, alhasil bisa berpikir lebih jernih setelahnya.

Baca juga: Ketika Seseorang Tidak Lagi Sama

2. Berbagi Informasi

Beberapa tahun lalu, saya pernah traveling ke Ho Chi Minh City, Vietnam. Perjalanan tersebut saya tulis di blog. Niat awalnya sebagai diary dan pengingat di masa depan bahwa saya pernah seberani itu traveling berdua saja dengan adik perempuan saya.

Ternyata beberapa orang nyasar di blog saya karena sedang bersiap pergi ke Vietnam. Mereka mengirim permintaan pertemanan di media sosial dan mengatakan cukup mendapatkan gambaran tentang Ho Chi Minh City melalui tulisan saya.

Dari situ, saya jadi semangat nih menulis tentang sesuatu yang setidaknya menarik bagi diri saya dan bisa jadi informasi untuk orang lain. Misalnya ketika saya menulis tentang campak, cukup banyak yang mampir membaca dan bertanya. Senang ya, bisa berbagi informasi dengan orang lain.

Oh iya tulisan saya tentang pengalaman ke Ho Chi Minh City antara lain ada di tulisan ini: Catatan Perjalanan: Mencari Penginapan di HCMC

3. Catatan Pengingat

Yup, salah satu alasan saya perlu menulis blog, seperti sudah saya sebut di awal adalah karena ingin memiliki catatan pengingat. Kadang saya melihat posting-an lama, dan kemudian menyadari ternyata saya pernah alay, he-he-he.

Membaca posting-an lama di blog itu bagi saya seperti sedang membuka album foto tua. Ada foto-foto kita saat remaja yang terlihat culun, tapi di suatu ketika terlihat manis dan lucu. Jadi senyum-senyum sendiri mendapati cerita dari masa lalu yang hadir kembali saat dibaca ulang. Coba dulu saya nggak menulis di blog, mungkin saya lupa pada potongan-potongan cerita lucu atau norak di masa lalu.

4. Menyalurkan Hobi

5 Alasan Saya Perlu Menulis Blog/ Foto: Kaitlyn Baker on Unsplash

Sejak kecil saya memang suka menulis. Guru SD saya dulu yang menyadari bahwa saya anaknya suka menulis. Terbukti buku pelajaran disalin semua ke buku tulis, hi-hi-hi. Nggak begitu juga sih. Dulu saya suka pelajaran mengarang dan membuat puisi. Soalnya kegiatan itu memfasilitasi imajinasi saya.

Meski hobi nulis, tapi blog saya beberapa tahun terakhir tampak sepi dari coretan eh ketikan saya. Maklum, terkadang pekerjaan di kantor cukup menyita perhatian. Apalagi ketika sudah menjadi ibu, kadang baru saja mau nulis, anak sudah minta ditemani main.

5. Mencari Rezeki

Sudah dua bulan terakhir ini saya mundur dari pekerjaan kantor. Anak saya sudah bersiap masuk sekolah dan butuh lebih banyak perhatian dari ibunya.

Dengan penuh percaya diri, saya tinggalkan kesibukan seorang ibu bekerja. Tapi setelah di rumah, apakah kegiatan tulis-menulis jadi 100 persen lebih mudah? Tidak juga.

Lho kenapa? Karena saya mengerjakan urusan rumah semua sendiri, kecuali menyeterika. Selain itu, anak saya yang teman main di rumah nggak banyak selalu minta ibunya jadi partner mainnya. Tapi nggak apa-apa, ini justru jadi tantangan tersendiri. Saya harus pintar bagi-bagi waktu agar semua berjalan dengan baik dan menyenangkan.

Apalagi muncul niatan untuk menjadikan blog sebagai salah satu sarana untuk mencari rezeki. Siapa tahu kesukaan saya menulis bisa membuka pintu rezeki, meski entah bagaimana caranya. Saya nggak mau pesimistis karena saya yakin rezeki tidak tertukar. Jika memang blog bisa membawa rezeki buat saya, pasti akan dimudahkan. Rezeki nggak melulu uang lho, pertemanan dan networking juga rezeki.

Bismillah, semoga semakin konsisten menulis blog.