Tags

, ,

“Lihat banyak kereta api, Ma? Mau, ayo, ayo!” Wah, balita saya antusias banget saat diberi tahu rencana mengunjungi Museum Kereta Api Ambarawa. Oke, Nak, kalau kamu semangat, mama juga makin semangat.

Kami tiba di Museum Kereta Api Ambarawa sekitar pukul 10.00 WIB. Melihat kereta api dari pagar luar museum, anak saya segera lari ke pintu masuk dengan penuh semangat. Sepertinya dia nggak sabar ingin segera naik ke atas ular besi itu.

Tiket Masuk Museum Kereta Api Ambarawa

Sebelum menjelajah dalaman museum, tentu saja kita harus membeli tiket terlebih dahulu. Tiket dewasa dibanderol Rp 10.000, sedangkan anak-anak Rp 5.000. Murah meriah, bukan?

Karena kami ingin naik kereta api lokomotif ke Tuntang (PP), saya pun memesan tiket lagi. Untuk naik kereta ini, per orang biayanya Rp 50.000. Tapi ucapan si mbak penjaga loket tiket sungguh membuat kami kecewa.

“Maaf, Bu, keretanya nggak jalan hari ini. Keretanya hanya jalan di akhir pekan dan tanggal merah,” ujar mbak penjaga loket tiket lirih.

Hari itu adalah hari Senin, dan sama sekali bukan tanggal merah. Saya pun memberi pengertian pada si kecil. Duh, pasti dia kecewa berat karena dalam perjalanan menuju Museum Kereta Api Ambarawa kami sudah membayangkan senangnya naik kereta kuno.

“Nggak apa-apa, Ma. Besok-besok kita ke sini lagi aja,” respons si kecil. Aih, Nak, dewasa sekali sih kamu. Yuk, kita mulai eksplorasinya.

Zaman Dulu Museum Ini adalah Stasiun

Museum Kereta Api Ambarawa memang unik, karena sebelum jadi museum dulunya adalah Stasiun Ambarawa. Nggak heran, kita akan melihat bangunan stasiun tempo dulu yang berdiri kokoh, lengkap dengan berbagai peralatan pengoperasian kereta. Karena itu pula, rel-rel kereta masih terpasang dengan baik di sekitarnya.

Rel itu pulalah yang dilewati kereta jalur wisata Ambarawa-Tuntang. Wisata kereta ini menggunakan lokomotif diesel, yang menarik tiga gerbong tua. Satu gerbong memiliki kapasitas 40 orang. Ambarawa–Tuntang sendiri memiliki jarak 7 km.

Saat berada di gedung yang merupakan Stasiun Ambarawa, saya duduk di salah satu kursi, lalu menghadirkan kenangan masa lalu. Masa beberapa tahun lalu, saat masih sering menunggu kereta di stasiun. Beberapa tahun lalu, kereta api tidak serapi saat ini. Pemberangkatan kereta kurang tepat waktu, bahkan harus berdesak-desakan di dalam kereta. Padahal waktu perjalanannya lebih dari 4 jam. Kebayang kan gimana capeknya.

Oh ya, Stasiun Ambarawa yang berada di Desa Panjang, Ambarawa, Semarang, ini sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Kala itu, namanya Stasiun Willem I. Nama ini digunakan untuk menghargai jasa Raja Belanda, Raja Willem I.

Seiring waktu berlalu, lokomotif-lokomotif uap mulai dimakan usia dan banyak yang berakhir jadi barang rongsokan. Lalu muncul ide Gubernur Jawa Tengah kala itu, Soepardjo Rustam, beserta Kepala PJKA Eksploitasi Tengah, Soeharso, untuk mengoleksi barang-barang antik era lokomotif uap. Akhirnya pada Oktober 1976, Stasiun Ambarawa resmi dialihfungsikan sebagai museum kereta api. Perlu diketahui juga, Museum Kereta Api Ambarawa adalah museum perkeretaapian pertama di Indonesia, lho. Keren, ya!

Melihat Berbagai Lokomotif Uap

Anak saya sangat gembira bisa naik turun lokomotif maupun gerbong. Sembari bermain-main dan berfoto, saya jelaskan padanya bahwa lokomotif dan gerbong itu usianya sudah tua. Kereta api modern tidak lagi menggunakan lokomotif uap semacam itu.

Lokomotif yang menjadi koleksi Museum Kereta Api Ambarawa antara lain C5101 dan CC5029. Tampilan lokomotif ini memang gagah dengan catnya yang berwarna hitam legam. Tak heran banyak yang foto-foto cantik dan ganteng bersama lokomotif ini, termasuk keluarga kecil kami, he-he.

Selain itu ada pula lokomotif kelas B25, D1007, F1002, kereta kayu, lokomotif diesel CC 200 15, serta lokomotif DD5512. Kedua lokomotif yang disebutkan terakhir itu dahulu berbasis di Stasiun Cirebon dan Stasiun Jatibarang.

Aneka Koleksi Halte

Di dalam kawasan Museum Kereta Api Ambarawa ada beberapa halte yang zaman dulu juga melayani naik dan turunnya penumpang kereta api. Misalnya saja ada Halte Kronelan yang dulu berlokasi di antara Stasiun Solo Kota dan Halte Kalisamin, yang merupakan jalur aktif Purwosari-Wonogiri.

Okupansi penumpang yang minim membuat pelayanan di halte ini lantas dihentikan. Nah, pada 2015, bangunan halte diangkut ke Museum Kereta Api Ambarawa. Haltenya sederhana sekali, terbuat dari kayu, ukurannya pun relatif kecil, sekitar 1,5 X 1,5 meter.

Selain Halte Kronelan, ada pula Halte Kepuh, Halte Cikoya, dan Halte Kepuh yang bisa kita sambangi. Halte-halte itu umumnya memiliki pintu depan, pintu belakang, dan loket tiket. Bangunan sederhana itu, saksi bisu perjalanan kereta api kita di masa lalu. Seperti ada perasaan sedih yang menyusup saat melihat halte yang sudah purna tugas itu.

Koleksi Lain yang Tak Kalah Menarik

Mesin pencetak tiket adalah koleksi yang juga dimiliki Museum Kereta Api Ambarawa. Kita antara lain bisa melihat melihat mesin cetak tiket Edmondson yang digunakan oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) saat era Hindia Belanda, di pertengahan tahun 1800-an. Mesin ini masih digunakan sampai Oktober 2009 oleh PT Kereta Api.

Saya masih ingat zaman dulu ada tiket karton kecil seukuran 2,5 cm X 5 cm yang wajib dibeli di stasiun sebelum naik kereta. Warna tiketnya hijau dan kemudian dikeluarkan versi warna pink. Di tiket tersebut antara lain ada informasi lokasi stasiun, harga tiket, serta tanggal dikeluarkannya tiket. Kondektur di kereta akan melubangi tiket-tiket ini saat pemeriksaan. Ada yang masih ingat dengan tiket karton jadul ini?

Mesin hitung kuno, mesin ketik Remington, lemari tiket, telepon model lama, pun telepon dinding Kellog juga menjadi koleksi Museum Kereta Api Ambarawa. Semua menjadi saksi administrasi perjalanan kereta api di Indonesia. Anak saya happy banget di sini, dia menjajal telepon dinding dan pura-pura mengetik menggunakan mesin ketik yang ada.

Lampu handsign yang digunakan petugas saat memberangkatkan kereta pun bisa kita lihat di museum ini. Anak-anak juga bisa melihat aneka bentuk semboyan dan terompet rangsir yang jadi bagian dari alat komunikasi petugas unit dan masinis agar perjalanan kereta aman terkendali.

Fasilitas Museum Kereta Api Ambarawa

Informasi sejarah perkeretaapian bisa kita simak di sepanjang dinding setelah pintu masuk. Dari situ kita bisa tahu bahwa perusahaan kereta api pertama di Indonesia adalah NISM. Ada informasi pula kereta lori pertama di Indonesia digunakan tahun 1849 di Kalimantan untuk memudahkan pengangkutan batu bara.

Kita juga jadi tahu gagasan kereta api pertama di Tanah Air muncul di tahun 1840. Kala itu ada kepentingan militer dan keinginan mempermudah pengangkutan komoditas perkebunan yang dianggap bisa difasilitasi oleh kereta api.

Museum Kereta Api Ambarawa juga dilengkapi ruang video yang berisi sejarah kereta api. Kita bisa menyaksikan video tersebut sambil duduk di kursi yang didesain mirip kursi kereta api zaman sekarang.

Berbagai miniatur lokomotif dan gerbong pun tersimpan rapi dalam kotak-kotak kaca. Kita juga bisa masuk ke Kereta Pustaka Indonesia, yang merupakan modifikasi dari gerbong barang B 80101. Gerbong ini sangat eye catching lantaran terdapat gambar beberapa bangunan cagar budaya perkeretaapian. Nah, di dalamnya ada aneka buku dan majalah yang bisa dibaca sambil bersantai. Ingat ya, saat akan masuk kereta ini kita harus melepas alas kaki terlebih dahulu.

Bagi umat Muslim, jangan khawatir ketinggalan waktu salat. Sebab di museum ini ada musala. Toilet untuk pengunjung pun disediakan.

Kami butuh sekitar tiga jam untuk mengeksplorasi Museum Kereta Api Ambarawa. Maklum, sedikit-sedikit berhenti untuk berfoto, hi-hi. Jam menunjukkan pukul 13.00 WIB saat kami meninggalkan pintu keluar. Hati senang meski perut lapar. Sebelum keluar dari lokasi, kami sempat beli aneka ikan goreng yang dijual di balik jeruji pagar. Wader goreng, cethul goreng, dan udang goreng yang jadi pilihan kami untuk teman ngemil di perjalanan. Sebungkus harganya Rp 10 ribu. Enak!