Tags

, , , ,

Menang atau kalah saat kamu mengikuti lomba itu biasa, Nak. Tidak perlu gembira berlebihan saat menang, dan jangan pula sedih berkepanjangan bila kalah. Hidup harus terus berjalan meski dengan atau tanpa piala yang kamu bawa pulang.

Dan hari itu, kamu pulang membawa piala. Bagimu piala juara satu lomba membaca itu bahkan tidak penting. Justru goodie bag berisi aneka jajanan yang lebih membetot perhatianmu. Ya, bagi anak usia empat tahun sepertimu, mungkin menang dan kalah tidak terlalu jauh bedanya.

Jujur, saat kamu hendak mengikuti lomba membaca itu, aku sebagai ibumu agak khawatir. Ya, khawatir kamu nanti tidak mau maju, khawatir kamu tidak bisa, khawatir kamu pulang berurai air mata karena kalah. Ternyata nggak hanya aku, orang tua lain juga banyak yang heboh saat anaknya akan mengikuti perlombaan.

Tanpa kusadari, terkadang kekhawatiran berlebihan yang terekspresi dalam sikap dan raut wajah itu justru bisa membuatmu tertekan. Tertekan karena ada beban ‘harus menang’ yang disematkan di pundak. Malu, takut, sedih, dan kecewa mungkin bakal dirasakan saat hasil yang diperoleh tidak sesuai ekspektasi.

Tapi saat itu aku menegur diriku sendiri. Aku tidak boleh membebani anak empat tahun yang sedang belajar bagaimana menjalani berbagai macam tantangan dalam hidup. Akhirnya kubiarkan kamu bermain sepuasnya tanpa memaksamu latihan membaca lebih keras. Bahkan aku mengendalikan diri untuk tidak menyinggung soal lomba yang akan kamu ikuti itu.

Tapi saat mengantarmu ke lokasi lomba pagi itu, kamu bertanya, “Ma, nanti lombanya gimana sih?”.

“Nanti diminta buat baca saja kok seperti biasa. Misalnya baca ‘Mama beli roti’ atau ‘Ayah naik beca’. Gitu aja. Bacanya yang keras ya, biar teman-temannya dengar,” ujarku santai. Ah, aku menangkap nada khawatir dalam bicaramu.

Aku bilang lomba itu untuk melihat kemampuan seseorang dan bisa diikuti agar makin berani. Melakukan sesuatu di hadapan banyak orang terkadang bikin orang panik dan malu. Nah, dengan ikut lomba, kita bisa belajar mengalahkan malu dan takut. Kamu tampak berpikir mendengar kalimatku sebelum akhirnya mengangguk.

Tulisan lain yang bisa disimak: Merasa Diri Paling Benar

Saat Lomba

Ketika lomba dimulai, orang tua diminta keluar ruangan. Aku hanya bisa melihat ke arena lomba dari dinding kaca. Setelah menunggu beberapa saat, kamu dipanggil maju ke panggung.

Kamu disodori kertas oleh panitia. Hmm, sepertinya dirimu membaca tanpa kesulitan. Sebenarnya penasaran ingin segera mendengar ceritamu maju ke panggung. Tapi harus bersabar dulu sampai acara selesai.

Tak lama, panitia membacakan pengumuman pemenang. Di kategori yang kamu ikuti, untuk juara ketiga dan kedua dibacakan nama yang tidak kukenal. Ah sudahlah, mungkin kamu nggak menang, Nak. Tapi ternyata juara satu didapat olehmu. Alhamdulillah.

Tapi ketika aku memberimu ucapan selamat, wajahmu bingung. “Kenapa selamat, Ma?” tanyamu.

“Kamu menang, Nak. Juara satu. Alhamdulillah, tadi sudah berani maju lomba baca ya,” ujarku.

Menang Senang, Kalah Sakit

Beberapa anak usia pra-sekolah mungkin sudah sering mengikuti berbagai perlombaan. Banyak yang merasa senang ketika menang, namun kekalahan sama sekali nggak akan membuatnya terpuruk. Tentu itu bagus banget, dan inilah yang diharapkan beberapa orang tua, termasuk aku, Nak.

Ucapan Kenneth Barish, Ph.D., associate professor bidang psikologi di Weill Medical College, Cornell University, benar-benar jadi perhatianku. Dalam tulisannya di Psychology Today, Barish bilang soal menang kalah itu nggak hanya dalam lomba, tapi juga muncul saat anak-anak bermain. Anak-anak cenderung nggak mau kalah saat main. Kenapa? Karena saat menang, anak akan merasakan perasaan dominasi yang menyenangkan. Harga dirinya pun meningkat.

Sering kali untuk mendapat kemenangan, beberapa anak akan berlaku curang. Adakah yang mengajari? Sebagai orang tua, aku nggak mengajarimu curang, Nak. Tapi terkadang kamu bisa melakukan kecurangan tanpa diajari, karena kamu tahu titik mana yang bisa kamu ‘manfaatkan’ agar dirimu mendapat keuntungan selama permainan. Misalnya kamu membuat aturan sendiri, lalu tiba-tiba kamu mengubah aturan itu. Lagi-lagi demi menghindari kekalahan yang menyakitkan.

Barish menambahkan beberapa anak bahkan tidak puas dengan kemenangan yang sudah didapat. Alhasil mereka lantas membual atau melebih-lebihkan kemenangannya, menyombongkan diri, dan mengejek yang kalah.

Tapi suatu ketika saat kalah dalam bermain, anak yang diliputi perasaan negatif bisa saja melempar mainan, bersikeras untuk bermain lagi sampai menang, atau sebaliknya: menolak bermain. Hmm, jadi ingat waktu kecil dulu, aku pernah melempar bola bekel gara-gara kalah bermain. Bola bekel itu akhirnya hilang entah ke mana. Jangan kamu tiru ya, Nak.

Membiarkan Anak Menang

Terkadang kami membiarkanmu menang saat bermain, Nak. Senang rasanya melihatmu tertawa bahagia dan begitu percaya diri. Tapi apa boleh kalau kami, orang tuamu, terus-terusan membuatmu menang dan tidak merasakan kekalahan?

Menurut Profesor Barish, membiarkan anak menang saat bermain boleh-boleh saja, tapi sebaiknya jangan terus-menerus. Ada kalanya menang, dan ada kalanya kalah. Bukankah dalam hidup juga demikian, terkadang di atas dan saat yang lain ada di bawah?

“Membiarkan seorang anak menang tidak mengajarkan untuk memiliki rasa hormat terhadap otoritas dan mendorong penolakan akan realitas,” ujar Profesor Barish.

Anak-anak memang manusia kecil, tapi mereka juga harus belajar menerima kekecewaan. Mereka juga perlu belajar menerima keterbatasan kemampuannya. Penerimaan-penerimaan semacam ini nggak instan. Perlu latihan secara bertahap dan terus-menerus.

Children see, children do. Bagi anak, orang tua adalah contoh terbaik. Tentu jika aku sebagai ibumu memberikan contoh yang baik, di mana tetap rendah hati saat menang dan tidak reaktif saat kalah, maka kamu bisa mencontohnya, Nak.

Bahwa benar ada yang jauh lebih berharga ketimbang piala yang dibawa pulang usai perlombaan. Sebab saat berkompetisi, ada pengalaman bersosialisasi, ada komitmen menghormati lawan, dan kita belajar bermain sesuai aturan. Fokusnya bukan pada kemenangan, tapi upaya melakukan yang terbaik.

Nak, jika kamu ingin menang saat akan berlomba maka itu bukan kesalahan. Tapi aku, ibumu, akan membantumu mendapatkan keseimbangan antara titik kemenangan dan titik meningkatkan kemampuan saat kalah.

Observasi Anak Saat Bermain

Profesor Barish menyarankan orang tua untuk mengobservasi anaknya saat bermain, apalagi dalam permainan yang berbau kompetisi. Sebab saat bermain, orang tua bisa mengamati sikap dan cara anak mengungkapkan ekspresinya. Bahkan anak pun akan meniru sikap dan ekspresi orang tuanya.

“Saat-saat singkat (dalam bermain) ini memberikan kesempatan bagi Anda untuk mengamati bagaimana anak berupaya mengatasi frustrasi. Nah, Anda dapat berdiskusi dengannya tentang hal itu,” sambung Profesor Barish.

Baiklah, Nak, kita belajar bersama ya. Aku akan belajar menjadi contoh yang baik bagimu, agar kelak kamu bisa berlomba tanpa takut kalah. Atau sebaliknya, saat menjadi pemenang kamu tidak merasa jadi sosok yang paling hebat. Kita belajar jadi orang yang bisa belajar dari pengalaman.