Tags

, , ,

Alasan menulis blog/ Foto:  Arnel Hasanovic on Unsplash

Apakah kamu punya blog? Apa alasanmu menulis blog? Pertanyaan-pertanyaan itu sering terlontar saat berbincang dengan teman baru di bidang literasi. Ya, aku menulis blog. Aktivitas ini sudah kulakukan sejak lama, sekitar tahun 2006 ketika Friendster berjaya.

Setelah Friendster, aku beralih menulis blog di Multiply. Kemudian beralih ke blogspot, dan terakhir ke WordPress. akupunmenulis.wordpress.com ini lahir 10 tahun lalu. Bila membuka lembaran lama, yang terbaca kebanyakan adalah kisah-kisah alay.

Sampai hari ini, aku masih menulis blog, dan tengah menyiapkan blog baru yang berbayar alias ber-TLD alias top level domains. Bagi diriku pribadi, setidaknya ada lima alasan menulis blog secara profesional.

  1. Berbagi cerita dan informasi
Alasan menulis blog/ Foto: Unsplash

Tak dipungkiri, menulis adalah me time sekaligus terapi psikis bagiku. Ketika kesal menggelegak dan hati terselimuti aneka emosi negatif, maka terapi terbaik adalah dengan menulis. Nah, blog bisa menjadi semacam lembaran buku tulis di dunia maya.

Akan tetapi berhubung aku ingin naik kelas menjadi blogger yang lebih profesional, maka tak ingin tulisanku sekadar curhat belaka. Dari ceritaku, akan kuselipkan informasi yang tidak saja bermanfaat bagiku tapi juga bagi siapa saja yang tanpa sengaja terdampar di blog-ku.

Tulisan menarik lainnya bisa disimak di sini ya: Menentukan Niche Blog untuk Menjadi Blogger yang Lebih Serius

Jadi misalnya aku menceritakan pengalamanku saat mengalami milk blister di masa menyusui si kecil, maka akan kupaparkan informasi tentang apa itu milk blister, serta cara mengatasinya. Dengan begitu, curhat akan menjadi lebih berbobot dan bermanfaat.

2. Personal branding

Di blog ber-TLD yang sedang kusiapkan, aku memilih parenting sebagai niche. Alasannya, aku pernah bekerja di media, mengelola kanal parenting dan juga kanal kesehatan yang salah satu bahasannya adalah ibu dan anak. Dunia parenting terasa familiar dan membuat nyaman. Apalagi aku jadi bisa belajar banyak untuk menjadi orang tua yang lebih baik.

Nah, dari sinilah aku bisa membangun personal branding sebagai penulis parenting, sebagai sosok perempuan yang antusias dengan isu-isu pengasuhan anak. Apa gunanya personal branding ini? Tentu bisa membuatku lebih dipercaya saat menyampaikan informasi seputar isu-isu parenting.

3. Menciptakan peluang

Alasan menulis blog/ Foto:  Emma Matthews Content Production on Unsplash

Sudah banyak orang yang meneguk rupiah dari blog. Aku bagaimana sebagai blogger yang baru bersiap menjadi profesional? Pernah, meskipun tidak banyak. Jadi suatu kali aku mendapat job menulis artikel yang harus diposting di blog sendiri. Nah, karena blog-ku sudah cukup tua, maka ada yang percaya dengan memberikan peluang kepadaku.

Tentu harapannya, kelak aku bisa memonetisasi blog-ku. Meskipun memang itu bukan tujuan utamaku. Lagi pula, peluang bukan saja sekadar uang dari blog. Bisa saja kelak aku mendapatkan pekerjaan baru mengelola kanal parenting di media massa, dan jutaan peluang lain yang tersebar di semesta.

4. Bertemu orang baru

Alasan menulis blog/ Foto: PChang Duong on Unsplash

Blog memberiku kesempatan bertemu dengan orang-orang baru. Mereka bisa saja orang-orang yang nyasar ke blog-ku lalu kami menjalin pertemanan. Ada juga orang baru yang kutemui di suatu event, entah sebagai teman atau sebagai narasumber.

Tulisan menarik lainnya bisa disimak di sini ya: 5 Alasan Saya Perlu Menulis Blog

Terkadang aku memang tidak nyaman berada di antara banyak orang, terlebih yang tidak aku kenal. Tetapi aku mau belajar apa saja dari siapapun yang kutemui, termasuk belajar menaklukan ketidaknyamanan berada di lingkungan baru.

5. Sarana belajar

Alasan menulis blog/ Foto: Emma Matthews Content Production on Unsplash

Menulis blog bagiku tidak sekadar menulis. Beberapa kali aku harus browsing untuk mencari artikel atau jurnal pendukung. Bahkan aku juga harus membuka beberapa buku untuk menjadi referensi. Semua dilakukan untuk melengkapi tulisan di blog. Dengan begini, blog juga menjadi sarana belajar bagiku.

Saat menulis tentang ketuban pecah dini, misalnya. Mau tidak mau aku harus mencari referensi agar tulisanku berbobot dan tidak mengandung hoax. Ya, belajar bisa dilakukan dengan berbagai macam cara.

Bagaimana dengan teman-teman, apa alasannya menulis blog?