Tags

, ,

Pria berkumis ini lahir dengan nama Muhammad Iqbal. Di Pakistan ia dikenal sebagai Allama Iqbal. Atas pemikirannya yang brilian, gelar ‘Sir’ pun diberikan bagi pria yang lahir 9 November 1877 itu. Selain itu, dia pun memiliki julukan The Poet of the East di kalangan masyarakat Barat.

Siapa sebenarnya Muhammad Iqbal? Dia adalah filsuf, sastrawan, ulama, ahli hukum, serta politikus ulung. Bahkan buah pemikirannya turut mendasari terbentuknya negara Pakistan.

Nah, tulisan ini akan fokus menyoroti pemikiran Muhammad Iqbal tentang pendidikan. Bagi Iqbal, dalam pendidikan, pendidikan watak dan pendidikan kreativitas adalah dua hal yang sangat penting. Menurutnya, pendidikan tidak bisa lepas dari kualitas dan watak manusia ideal.

Bagaimanakan manusia ideal? Iqbal berpendapat manusia ideal adalah yang hidup dengan baik, penuh usaha, dan hidup dengan baik. Sebaliknya manusia ideal jauh dari hidup yang tertutup, menarik diri atau mengasingkan diri, serta hidupnya penuh dengan kemalasan. Selanjutnya untuk mengembangkan pendidikan watak, maka perlu adanya tiga sifat yakni keberanian, toleransi dan faqr atau keprihatinan.

Ia berpandangan pendidikan berkaitan dengan masalah individu dan masyarakat. Karena itu, pengembangan kepribadian individu tidak mungkin didapat tanpa lingkungan dan masyarakat yang mendukung. Akan tetapi jika lingkungan tidak mendukung, maka tidak boleh menyerah begitu saja pada kekuatan lingkungan. Manusia bisa membentuk kembali lingkungan sesuai kebutuhannya. Ada kebebasan di sini, tapi bukan bebas yang sebebas-bebasnya, melainkan kebebasan dalam koridor yang menjaga manusia tidak menyimpang dari tujuan hidup sebagai khalifah Allah.

Apalagi kata Iqbal, tujuan sebenarnya dari pendidikan adalah membentuk lingkungan sesuai dengan cita-cita atau nilai-nilai individu. Sebaliknya, pendidikan tidak bertujuan untuk menyerahkan diri kepada lingkungan fisik.

Berikut ini pemikiran Iqbal yang terekspresikan dalam seninya yang indah berjudul Aku dan Ego.

Tuhan menciptakan dunia dan
Manusia membuatnya lebih indah
Apakah manusia ditakdirkan
Untuk menjadi saingan tuhan?
Kau ciptakan malam, aku ciptakan lentera
Kau ciptakan lempung, aku ciptakan cawang
Kau ciptakan padang pasir, gunung dan rimba
Kau ciptakan kebun, taman dan hutan buatan
Akulah yang membuat batu menjadi cermin
Akulah yan merubah racun menjadi obat
Kebesaran manusia terletak pada daya ciptanya
Bulan dan bintang hanya mengulang
Kewajiban yang ditetapkan atasnya.

Sementara terkait pendidikan kreativitas, menurut Iqbal adalah pendidikan yang berbasis religiusitas. Bahwa benar ilmu pengetahuan memiliki peran penting dalam pendidikan. Akan tetapi Iqbal berpandangan, ilmu pengetahuan hanya mampu menerima kebenaran sementara. Di sini, agama hadir untuk memberi gambaran dan pemahaman mengenai dunia nyata secara lengkap dan menyeluruh. Dengan agama, manusia bisa mengimbangi pemikirannya yang didapat dari ilmu pengetahuan. Karena itu agama memiliki kedudukan yang pertama dan utama dalam memahami dunia.

Sumber:

  1. Widyastini, Konsep Pemikiran Filsafati Muhammad Iqbal tentang Pendidikan dan Relevansinya dengan Pembangunan Karakter bagi Bangsa Indonesia.
  2. Abadullah Faruqi, Educational Ideas of Iqbal.
  3. https://nurwahidabdulloh.wordpress.com/pengetahuan/filsafat/filsafat-iqbal/